Lima benteng pertahanan menghadapi malaria

Ditulis oleh: Iqbal Elyazar

 

Kita hidup berdampingan dengan nyamuk setiap hari, tetapi jarang menyadari bahwa serangan malaria dimulai dalam hitungan detik, bahkan sebelum kita sempat menepuk kulit.

 

Benteng 1. Hindari gigitan nyamuk.

Kita sebenarnya punya banyak cara untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk. Caranya bisa bermacam-macam: tidak keluar rumah pada malam hari, memasang kasa nyamuk di pintu dan jendela, menutup celah tempat nyamuk bisa masuk, memakai kelambu saat tidur, menyalakan kipas angin, atau menggunakan raket nyamuk.

 

Intinya satu: usahakan jangan sampai ada kontak dengan nyamuk, baik saat kita masih terjaga maupun ketika sedang tidur sepanjang malam.

 

Saat kita lengah, nyamuk bisa hinggap di kulit dan mulai bekerja. Dari luar, bagian mulut nyamuk terlihat seperti satu batang ramping. Namun sebenarnya, bagian itu terdiri dari enam jarum halus: ada yang bertugas menusuk kulit, ada yang mencari pembuluh darah, ada yang menyuntikkan air liur, dan ada yang mengisap darah.

 

Air liur nyamuk bukan air liur biasa. Di dalamnya ada berbagai zat aktif seperti zat yang membuat darah tidak cepat membeku, zat yang melebarkan pembuluh darah kecil, dan zat pereda nyeri ringan yang membuat kita sering tidak sadar sedang digigit.

 

Melalui air liur inilah parasit malaria, dalam bentuk yang disebut sporozoite, masuk ke tubuh kita. Prosesnya cepat sekali. Kurang dari satu menit, sporozoite bisa sudah masuk. Jumlah yang masuk bisa sedikit, bahkan hanya satu, atau bisa ratusan dalam satu gigitan.

 

Tetapi meskipun hanya satu sporozoite yang berhasil mencapai sel hati, itu saja sudah cukup untuk memulai infeksi malaria.

 

Benteng 2. Cegah sporozoite masuk hati

Ketika nyamuk menyuntikkan sporozoit ke kulit, tidak semuanya berhasil masuk ke tubuh. Sebagian tertinggal di kulit dan lama-kelamaan akan mati. Namun sebagian lain berhasil menemukan pembuluh darah kecil dan masuk ke aliran darah. Inilah yang perlu kita waspadai, karena sporozoit yang terbawa aliran darah akan menuju ke hati, organ yang berfungsi menyaring racun dan mengubahnya menjadi zat yang lebih aman untuk dibuang melalui urin atau empedu.

 

Bagi parasit malaria, hati adalah markas pertama yang mereka tuju. Dalam waktu kurang dari satu jam setelah gigitan nyamuk, sporozoit sudah mulai menyerang dan masuk ke sel-sel hati (hepatosit).

 

Di tahap kedua ini, yang perlu dicegah adalah agar sporozoit tidak berhasil masuk ke hati.

 

Hati menjadi tempat parasit berlindung dari sistem kekebalan tubuh. Pada Plasmodium vivax dan P. ovale, sebagian parasit bisa tidur lama di hati sebagai hipnozoit, yang dapat bangun kembali dan menyebabkan malaria kambuhan.

 

Di dalam hati, sporozoit berkembang biak menjadi ribuan merozoit yang nantinya akan keluar ke aliran darah dan menyerang sel darah merah. Inilah awal dari gejala malaria yang kita kenal.

Sayangnya, kita tidak bisa melakukan banyak hal pada benteng kedua ini. Begitu parasit mencapai hati, prosesnya menjadi pertarungan biologis antara parasit dan sistem kekebalan tubuh kita.

 

Penelitian sedang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tubuh menghasilkan antibodi yang dapat menangkap sporozoit di aliran darah, sebelum mereka sempat masuk ke hati.

 

Benteng 3. Hancurkan parasite di sel hati


Setelah dua benteng pertahanan kita gagal, parasit malaria akhirnya sampai ke markas besarnya: hati. Setiap sporozoit yang berhasil masuk ke hati akan menginfeksi satu sel hati. Di dalam sel itu, parasit berkembang biak sangat cepat hingga ukuran sel hati membengkak berkali-kali lipat. Satu sel hati yang terinfeksi bisa menghasilkan 10.000 sampai 40.000 merozoit (pasukan parasit tahap berikutnya).

 

Setelah sekitar satu minggu, sel hati yang membengkak itu pecah dan melepaskan ribuan merozoit ke pembuluh darah kecil di sekitar hati. Dari sana, mereka masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Inilah saat benteng ketiga runtuh, serangan besar-besaran parasit ke sel darah merah pun dimulai.

 

Untuk melawan parasit di hati, kita menggunakan obat malaria yang memang bekerja khusus di tahap ini, yaitu: Primaquine dan Tafenoquine. Keduanya bekerja dengan merusak mitokondria parasit, menghasilkan molekul yang merusak membran pelindung parasit, merusak DNA parasit, sehingga parasit tidak bisa bertahan hidup di sel hari.

 

Jika parasit hipnozoit tidak diberantas, ia akan tetap “bersembunyi” di hati dan dapat menyerang kembali kapan saja, menyebabkan kambuhnya malaria.

 

Obat primaquine dan tafenoquine membunuh parasit dengan cara menghasilkan molekul oksidan. Sel darah merah sebenarnya memiliki “perisai” alami berupa antioksidan yang dijaga oleh sebuah enzim bernama G6PD.

 

Jika seseorang memiliki enzim G6PD yang cukup, sel darah merahnya aman. Namun, jika seseorang kekurangan enzim G6PD, sel darah merahnya tidak terlindungi, sehingga mudah pecah (hemolisis). Ini bisa sangat berbahaya.

 

Karena itu, obat primaquine dan tafenoquine hanya boleh diberikan setelah seseorang dipastikan memiliki enzim G6PD yang cukup.

 

 

Benteng 4. Hancurkan parasite di darah

 

 

Ketika parasit malaria (merozoit) dilepaskan dari hati dan masuk ke aliran darah, mereka mulai menyerang sel darah merah. Satu merozoit menyerang satu sel darah merah, mengambil energi dari sel tersebut, kemudian membelah diri menjadi banyak parasit baru.

 

·       P. falciparum: 16–32 merozoit baru per satu sel darah merah

·       P. vivax: 12–24 merozoit baru per satu sel darah merah

 

Begitu sel darah merah pecah, merozoit baru keluar dan mencari sel darah merah lain untuk diserang. Siklus ini berulang:

 

·       setiap 2 hari pada P. falciparum, P. vivax, P. ovale

·       setiap 3 hari pada P. malariae

·       setiap 1 hari pada P. knowlesi

 

Jika tidak diobati, jumlah parasit akan meningkat sangat cepat. Secara teori, dari satu sporozoit saja, dalam waktu seminggu bisa terbentuk ratusan juta merozoit.

 

Namun dalam kenyataan, pertumbuhan ini tidak secepat itu. Merozoit yang berada di luar sel darah merah hanya bisa bertahan 1–2 menit. Jika tidak menemukan sel darah merah baru, mereka akan mati. Inilah fase paling rentan dalam hidup mereka.

 

Selain itu, sistem kekebalan tubuh juga membantu menahan serangan parasit. Antibodi dan sel T (CD4+) bekerja mengenali dan menghancurkan sebagian merozoit. Pada orang yang pernah terkena malaria sebelumnya, respon imun ini biasanya lebih kuat.

 

Hanya 10–20% merozoit P. falciparum yang berhasil menyerang sel darah merah berikutnya

 

Pada P. vivax, peluangnya lebih kecil lagi karena ia hanya bisa menyerang sel darah merah muda, yang jumlahnya kurang dari 1% dari seluruh sel darah merah tubuh

 

 

Banyak parasit, terutama P. falciparum, bersembunyi dengan cara menempel di dinding pembuluh darah, terutama di hati, limpa, dan otak.

 

Jika tidak diobati, infeksi bisa lama bertahan. Pada P. falciparum, siklus serangan ini bisa berlangsung hingga 6 bulan. Sedangkan pada P. vivax, infeksi bisa bertahun-tahun karena adanya hipnozoit di hati yang sewaktu-waktu bangun dan melepaskan merozoit baru.

 

Obat malaria modern yang paling efektif adalah ACT (Artemisinin-based Combination Therapy), seperti Dihydroartemisinin–Piperaquine (DHA–PPQ). DHA bekerja cepat masuk ke sel darah merah yang terinfeksi dan menghancurkan parasit (waktu paruh ± 1 jam). Sedangkan Piperaquine (PPQ) mencegah parasit membuang racunnya sendiri, sehingga racun menumpuk dan parasit mati. PPQ bertahan lama di tubuh (waktu paruh ± 30 hari), sehingga membantu mencegah infeksi ulang.

 

 

Obat lain seperti Mefloquine (MQ), bekerja mirip PPQ, dengan waktu paruh sekitar 3 minggu, jadi obat ini lebih lama bertahan dalam sirkulasi darah.

 

Dengan kombinasi obat-obatan ini, kita dapat menghentikan siklus penghancuran sel darah merah dan mencegah parasit berkembang lebih jauh.

 

 

Benteng 5. Hentikan gametosit agar tidak menular ke nyamuk



Dalam aliran darah, sebagian merozoit berubah menjadi gametosit, benih yang siap berpindah ke tubuh nyamuk. Seseorang yang membawa gametosit dapat menularkan malaria kepada nyamuk.

 

Begitu nyamuk mengisap darah orang tersebut, ia berpotensi menjadi vektor yang kemudian menularkan malaria ke orang lain.

 

Pada Plasmodium falciparum, gametosit membutuhkan waktu sekitar 8 hari untuk matang sempurna dan dapat bertahan hingga 4 minggu. Artinya, bila penderita tidak diberi obat anti-gamet, ia tetap bisa menularkan malaria ke nyamuk bahkan setelah merasa pulih secara klinis.

 

Sebaliknya, pada P. vivax, gametosit terbentuk jauh lebih cepat, hanya sekitar 2 hari, tetapi umur hidupnya lebih pendek, kira-kira 1 minggu.

 

Menariknya, gametosit mampu mempengaruhi proses fisiologis tubuh manusia untuk mengeluarkan sinyal-sinyal kimiawi yang membuatnya lebih atraktif bagi nyamuk betina.

 

Setelah gametosit masuk ke tubuh nyamuk, mereka menjalani perkembangan seksual, lalu menghasilkan sporozoit yang siap ditularkan kembali ke manusia berikutnya.

 

Senjata yang kita miliki untuk menghancurkan gametosit adalah primaquine dan tafenoquine. Kedua obat ini efektif membersihkan gametosit dari pembuluh darah, sehingga memutus rantai penularan dari manusia ke nyamuk.

 

 

Pada akhirnya, setiap benteng pertahanan adalah kesempatan untuk menghentikan malaria sebelum ia menyebar lebih jauh. Ketika kita mengetahui cara bekerja musuh, kita tahu di mana harus berdiri, bersiap, dan melawan

Tags:
Go Back Top